Film India Tentang Pembalut Memenangkan Piala Oscar 2019

Film India tentang pembalut agaknya tidak masuk akal untuk dijadikan sebuah tontonan, namun nyatanya ia berhasil menyabet penghargaan berupa piala Oscar 2019. Kategori yang dimenangkannya adalah film dokumenter pendek terbaik dan mengalahkan ratusan judul lainnya setelah bersaing secara ketat terhadap cerita dari seluruh penjuru dunia.

Semuanya berawal dari remaja perempuan berkebangsaan India bernama Sneh, bergumul dengan masa remaja yang sebetulnya akan dilalui mayoritas wanita pada umumnya. Ia baru saja mengalami datang bulan, namun dirinya begitu ketakutan karena tidak mengetahui dengan jelas apa yang sebenarnya sedang ia hadapi.

Film India Tentang Pembalut Memenangkan Piala Oscar 2019

Sneh sangat ketakutan, mengira bahwa dirinya sedang terjangkit penyakit mematikan sehingga tanpa sadar ia mulai meneteskan air mata. Gadis yang tinggal di Desa Kathikhera ini berpikir bahwa hidupnya tak lama lagi akan berakhir, apalagi ia berasal dari keluarga miskin di mana mustahil mampu membiayai pengobatannya nanti.

Karena terlalu panik dan kebingungan, Sneh tidak berani memberitahu apa yang ia alami kepada sang ibu, dan memilih untuk berkonsultasi dengan bibinya. Setelah mendengarkan ceritanya dari awal hingga akhir, bibi hanya tersenyum sembari berbicara dengan nada lembut, berkata bahwa hal tersebut adalah kondisi normal dan tidak perlu ditakuti.

Film India Tentang Pembalut Berjudul Period Banjir Pujian di Mancanegara

Film India tentang pembalut berhasil melambungkan nama Sneh yang saat itu telah berusia 22 tahun dan hidup dalam damai. Ia mengabdikan dirinya dengan bekerja pada sebuah pabrik kecil yang menjadi produsen pembalut ketika sedang menjalani syuting sebagai tokoh utama pada film berjudul Period.

Awal mulanya, sekelompok mahasiswa dari Hollywood Utara bertekad untuk mencari dana menggunakan metode crowdfunding untuk kegiatan sosial. Uang yang terkumpul mereka gunakan sebagai modal pembelian beberapa mesin produksi pembalut, lalu mengirimkannya ke Desa Kathikhera yaitu tempat tinggal Sneh.

Film India Tentang Pembalut Berjudul Period Banjir Pujian di Mancanegara

Desa tersebut begitu terpencil, jauh dari hiruk pikuk serta keramaian kota, tanpa keberadaan gedung tinggi apalagi mal sebagai pusat perbelanjaan. Agar usahanya semakin disorot oleh publik, para mahasiswa dermawan ini turut menggandeng seorang sutradara bernama Rayka Zehtabchi dan membujuknya supaya mau membuat film dokumenter tentang kegiatan mereka.

Film bertema sosial dari India memang semakin banyak jumlahnya, semua ini berkat kesuksesan film Three Idiots mengharumkan Bollywood di kancah internasional. Tapi bukan sekedar ingin mencari panggung, melainkan betul-betul banyak pesan moral tersirat sepanjang durasi film yang mesti kita petik pelajarannya.

Berhasil Mengangkat Topik Tabu Ke Permukaan

Film India tentang pembalut tersebut dianggap telah berhasil mengangkat topik yang sangat tabu bagi masyarakat setempat ke permukaan. Menurut tradisi, perempuan yang sedang dalam masa haid dianggap kotor sehingga tidak diperkenankan memasuki rumah ibadah serta mengikuti berbagai kegiatan sosialisasi hingga menstruasinya mereda.

Akibatnya, banyak perempuan yang malu dan menutupi kondisi mereka terutama jika sedang mengalami haid, bahkan menolak untuk membicarakannya. Maka dari itu, tidak heran apabila Sneh sampai kewalahan menangani menstruasi karena kurangnya informasi seputar haid, sampai pada akhirnya ia harus mencari tahu sendiri dengan susah payah.

Film India Tentang Pembalut Berhasil Mengangkat Topik Tabu Ke Permukaan

Semua budaya kolot tersebut perlahan menghilang setelah sebuah lembaga sosial dan kemanusiaan berinisiatif membangun pabrik pembalut di Desa Kathikhera. Sneh dengan senang hati melamar pekerjaan di pabrik tersebut, selain karena sejalan dengan misinya, di samping itu tersedianya lapangan pekerjaan merupakan sebuah hal langka di wilayahnya.

Beberapa kali pabrik ini harus bergelut dengan masalah infrastruktur seperti ketersediaan listrik yang masih belum memadai, berulang kali produksi terhambat karena listrik padam. Namun perlahan tapi pasti, usahanya mulai membuahkan hasil, terbukti dengan meningkatnya jumlah perempuan yang menggunakan pembalut di desa tersebut kini telah mencapai 70% dari total populasi.